Suasana berbeda terlihat di halaman Balai RW 5 Kelurahan Babatan, Kota Surabaya, Selasa 20 Januari 2026 lalu. Puluhan warga, yang didominasi ibu-ibu dan remaja, tampak antusias mengikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan serta praktik secara langsung mengolah bahan-bahan organik menjadi pakan alternatif untuk ikan lele. Pelatihan “Pembuatan Pakan Lele Mandiri” ini digelar untuk mengoptimalkan potensi pertanian perkotaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan yang harganya fluktuatif.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinan Kelompok Tani babatan Pilang dan Pengurus RW setempat terhadap tingginya biaya operasional budidaya lele dalam ember (budikdamber) yang sedang digalakkan di wilayah tersebut. Selama ini, pembelian pakan komersial menyumbang lebih dari 60% biaya produksi.
“Kami sudah berhasil memulai budikdamber di beberapa pekarangan sempit warga. Lele tumbuh, tapi ketika kami hitung, keuntungannya tipis karena biaya pakan mahal. Dari situlah muncul ide untuk membuat pakan sendiri dari bahan-bahan yang mudah didapat, bahkan dari limbah dapur,” ujar Ketua Poktan, dalam sambutannya.
Pelatihan yang dipandu oleh Dinas Peternakan Kota Surabaya, mengajarkan dua formulasi pakan. Formulasi pertama menggunakan bahan-bahan seperti bekatul, tepung ikan, tepung kedelai, dan vitamin. Formulasi kedua lebih inovatif dengan memanfaatkan bahan lokal, seperti limbah sayuran hijau (kangkung, bayam), ampas tahu, sisa nasi, bahkan kulit pisang yang difermentasi.
“Sederhananya, prinsipnya adalah memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, dan nutrisi lainnya untuk lele. Dengan bahan lokal, kita bisa menekan biaya hingga 40-50%. Kulit pisang yang sering dibuang, misalnya, setelah fermentasi memiliki kandungan gula dan serat yang baik,” papar petugas.
Peserta diajak langsung menghitung komposisi, mencampur bahan, menggiling, dan mencetak pakan. Prosesnya yang sederhana namun membutuhkan ketelitian membuat semua peserta terlibat aktif.
“Ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Ampas tahu dan sayuran busuk yang biasanya saya buang, ternyata bisa jadi emas untuk lele-lele saya. Saya jadi semangat lagi mengembangkan budikdamber di rumah,” tutur Ika, salah satu peserta, sambil tertawa.
Lurah Babatan, Hertika Vitra Hening, yang turut hadir menyambut baik kegiatan ini. “Ini sejalan dengan program kelurahan menuju kemandirian pangan dan pengelolaan sampah organik. Gerakan urban farming tidak hanya menyediakan makanan sehat untuk keluarga, tetapi juga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan jika dikelola dengan baik. Pelatihan seperti ini akan kami replikasi di RW lainnya,” tegasnya.
Pelatihan diakhiri dengan komitmen bersama untuk membentuk kelompok pembuatan pakan bersama. Rencananya, kelompok ini akan mengumpulkan bahan baku secara kolektif dan memproduksi pakan untuk memenuhi kebutuhan anggota, sehingga lebih efisien.
Dengan semangat gotong royong dan kreativitas, warga RW 5 Babatan membuktikan bahwa keterbatasan lahan dan modal bukan halangan untuk berdaya. Dari pekarangan dan sampah dapur, mereka merajut kemandirian pangan, sekaligus mengukuhkan bahwa ketahanan pangan perkotaan bisa dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga. Inisiatif ini diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas urban farming lain di tengah kota.







