Kesetaraan gender merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan suatu negara. Pencapaian kesetaraan tersebut di tingkat nasional dapat dilihat melalui beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur kondisi serta peran laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, yaitu Indeks Pembangunan Gender (IPG), Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), dan Indeks Ketimpangan Gender (IKG). Ketiga indeks ini menjadi alat ukur yang penting untuk menilai sejauh mana kesetaraan gender telah terwujud dalam proses pembangunan.
Perkembangan pembangunan manusia berbasis gender di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, capaian kesetaraan gender dapat dilihat melalui tiga indikator utama, yaitu Indeks Pembangunan Gender (IPG), Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), dan Indeks Ketimpangan Gender (IKG).

Salah satunya perkembangan pembangunan manusia di Jawa Timur menunjukkan tren yang terus membaik dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini tercermin dari peningkatan nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG), serta penurunan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) pada periode 2018 hingga 2024.
Berdasarkan data tahun 2024, nilai Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Jawa Timur mencapai 92,19. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2018 yang berada pada angka 90,77. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan di Jawa Timur semakin kecil, terutama dalam aspek kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Beberapa daerah dengan capaian IPG tertinggi antara lain Kota Blitar (97,49), Kota Pasuruan (96,99), dan Kota Probolinggo (96,58). Capaian ini menunjukkan bahwa pembangunan yang responsif gender di tingkat daerah mulai memberikan hasil yang positif.
Selain itu, Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Jawa Timur pada tahun 2024 tercatat sebesar 75,32, meningkat dari 69,71 pada tahun 2018. Peningkatan ini mencerminkan semakin besarnya keterlibatan perempuan dalam bidang ekonomi dan politik, termasuk dalam posisi pengambilan keputusan dan kontribusi terhadap pendapatan. Beberapa daerah dengan nilai IDG tertinggi antara lain Kota Kediri (81,27), Blitar (79,96), dan Banyuwangi (79,51). Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam pembangunan daerah semakin diakui dan diperkuat.
Sementara itu, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Jawa Timur menunjukkan tren yang semakin membaik. Pada tahun 2018 nilai IKG tercatat sebesar 0,483, kemudian menurun secara bertahap hingga mencapai 0,347 pada tahun 2024. Semakin rendah nilai IKG menandakan semakin kecilnya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam aspek kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan partisipasi di pasar tenaga kerja. Beberapa daerah dengan tingkat ketimpangan gender paling rendah antara lain Kota Madiun (0,093), Kota Kediri (0,120), dan Kota Malang (0,131).
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan bahwa upaya mewujudkan kesetaraan gender di Jawa Timur terus mengalami kemajuan. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa wilayah yang memerlukan perhatian lebih agar pembangunan yang berperspektif gender dapat terwujud secara merata di seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini. Upaya penguatan kebijakan dan program yang responsif gender menjadi langkah penting dalam mendorong terciptanya pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat.







