Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia. Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk memperoleh ruang, akses, dan kesempatan dalam berbagai aspek kehidupan. Baik di ranah domestik maupun publik, perempuan berhak berkembang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang dimilikinya, tanpa terbelenggu oleh stigma lama yang membatasi peran mereka hanya di dalam rumah.
Pandangan bahwa perempuan hanya sebagai “tulang rusuk” kini semakin bergeser. Realitas di lapangan menunjukkan banyak perempuan yang justru menjadi “tulang punggung” keluarga, berperan aktif dalam menopang ekonomi sekaligus tetap menjalankan peran dalam keluarga. Pilihan perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga maupun berkarier di ruang publik adalah hak yang setara dan sama-sama bernilai. Tidak ada satu peran yang lebih tinggi dari yang lain, karena keduanya merupakan kontribusi penting dalam membangun keluarga dan masyarakat.
Semangat kesetaraan ini juga mulai diwujudkan di berbagai daerah, termasuk di Surabaya. Pemerintah kota terus menghadirkan berbagai program pemberdayaan perempuan, seperti Sekolah informal Perempuan (Sekoper) dan inisiatif lainnya. Program-program ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga membekali perempuan dengan keterampilan, kepercayaan diri, serta kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
Melalui berbagai program pelatihan yang dihadirkan, pemerintah berupaya membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkembang secara mandiri dan berdaya. Kegiatan seperti kelas kecantikan (beauty class) dan pelatihan memasak bukan sekadar mengajarkan keterampilan dasar, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan perempuan dalam mengelola potensi diri. Dengan adanya pelatihan ini, perempuan tidak lagi dipandang terbatas pada pekerjaan domestik semata, melainkan memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang dapat bernilai ekonomi.
Program-program ini dirancang agar perempuan mampu melihat peluang baru, baik dalam bentuk usaha mandiri maupun pengembangan karier di bidang tertentu. Kelas kecantikan, misalnya, dapat menjadi pintu awal bagi perempuan untuk terjun ke industri jasa yang terus berkembang. Sementara itu, pelatihan memasak tidak hanya berhenti pada kemampuan mengolah makanan, tetapi juga dapat diarahkan menjadi peluang usaha kuliner yang menjanjikan. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh tidak hanya bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Melalui langkah nyata tersebut, diharapkan perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan sebagai agen perubahan yang memiliki peran strategis dalam kemajuan bangsa. Kesetaraan gender bukan sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan bersama untuk menciptakan masyarakat yang adil, inklusif, dan berdaya.







